Kamis, 19 Oktober 2017

Sudahi Saja Bib!

Hei bung...
Apa kabar jubah mu di priangan
Sayup ku dengar ternoda darah
Dari gerombolan penyamun tak ramah
Menghunus bambu runcing
Menikam saat membelakang

Hei bung...
Masihkah kuat melangkah?
Dengan segenap luka nan bernanah
Resah jiwa yang tertahan prasasti
Demi keadilan pertiwi
Yang lama mati suri
Sudahi sajalah bib...
Sudahi genggamanmu itu
Lepaskan dan nikmatilah air di jelaga itu
Reguklah hingga puas
Hingga dahagamu membeku
Sudahi sajalah bib...
Tengoklah picingan mata mereka
Sinis membunuhmu
Yang tak jua berhenti melaju
Demi dustur yang tak lagi di gugu

Sudahi sajalah bib...
Tak kah lelah
Mengumpat penista congkak
Melumat tembok tembok maksiat
Apa lah yang kau perjuangkan
Tak jua lencana kau rengkuh
Malah habis diburu pengemis syahwat

Sudahi saja bib...
Sisa hayatmu akan tenang
Mengalir seperti salsabila
Tak perlu kau pilih jalan api
Yang panas membakar kaki

Sudah dan tenanglah bib...
Agar penikmat sajian dunia semakin bahagia
Agar penista agama makin jumawa
Agar indonesia berbhineka
Ala mereka
Yang lupa darah para syuhada

Tidurlah bib...
Istirahatkan sejenak lisanmu
Agar memori Nuh menyadarkan
Agar kisah Tsamud tak terbantahkan
Agar sejarah Luth terbangkitkan
Menciutkan kesombongan durjana

Sudah...
Tenanglah wahai manusia berjubah
Cukup ceritakan pada kami
Tentang cita cita negeri
Yang tak lagi peduli
Arah nurani


Fa'Ik
Surabaya

13 Januari 2017

Kontribusi Sepi, Di Tengah Hiruk Pikuk Kebangkitan Dunia Literasi

Lalu Asya pun berlari, menjingkrak jingkrakan kakinya sambil berseru
“Ayo..... Bundaku beli buku-buku baguusss. Ayo ke rumah baca”,” serunya riang
Tidak sampai 2 jam, 20 buku yang dibeli hasil dari donasi dermawan, ludes tak bersisa. 
Nampak beberapa kali dalam sunyi nya membaca, Asya dan teman-teman saling bertukar buku, tersenyum, menikmati sekali membaca di Rumah Baca Andalusia, Wilayah Tambun Bekasi
Sementara itu di kota lain, nampak kerumunan anak-anak berseragam kuning , berjalan dalam barusan teratur. Mereka, siswa PAUD RW 2 Manukan Kulon, nampak bersemangat dengan field trip hari ini berupa kunjungan ke Rumah Baca Andalusia , Manukan Kulon, Surabaya.
Hari itu, undangan parenting skill bagi orang tua siswa, telah tersiar melalui bunda PAUD setempat. Mengambil tema  ”Optimalisasi tumbuh kembang dan kreativitas anak” acara tersebut nampak meriah diikuti 20an anak beserta orang tuanya masing-masing. Sesaat setelah memberikan pemahaman pentingnya optimalisasi  pertumbuhan anak usia dini sebagai input bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya, agenda dilanjutkan dengan aktivitas bersama antara orang tua dengan anak-anaknya.
Selain membaca bersama, juga diselingi pembacaan dongeng oleh relawan Rumah Baca Andalusia Manukan Kulon, Surabaya. Anak-anak terlihat antusias melihat mimik, celoteh dan ekspresi pendongeng.
Andalusia... Di kota itu, terdapat perpustakaan terbesar didunia abad itu. Buku-buku sains, syair dan buku-buku kajian keislaman, tergurat di kota tersebut. Ya... Islam merupakan agama yang sangat mendukung dunia literasi. Hampir disetiap wilayah kekuasaannya, dipastikan ada perpustakaan sebagai tempat para pemuda, ulama dan umara belajar, mengkaji dan menghasilkan karya-karya fenomenal. Dan Salah satu perpustakaan terbesar itu, didirikan Daulah Bani Umayyah II, di Andalusia
Terinspirasi sejarah itu, Bersama istri tercinta, Kami coba berkontribusi dalam dunia literasi dengan mendirikan Rumah Baca Andalusia. Mimpi itu kami guratkan dalam suatu target bahwa akhir 2018, akan berdiri 40 Rumah Baca Andalusia di berbagai daerah. Ambisius mungkin, mengingat kami pun ’pemain baru’ dalam dunia literasi. Tapi, kami coba berjalan dengan tekad itu. Menghimpun dana dari dermawan, mencari relawan yang bersedia ‘menghibahkan’ waktunya untuk membangun dan mengelola secara mandiri rumah baca, kami jalani setahap demi setahap. Memulai rencana itu sejak November 2016, Alhamdulillah semua karena Allah SWT, kini telah berdiri 9 (Sembilan) Rumah Baca Andalusia, dengan konsep mendirikan rumah baca baru dan supporting rumah baca yang telah lama mati. Berawal dari Surabaya tempat kami ditugaskan untuk melanjutkan study (kini telah berkembang menjadi 2 rumah baca), berlanjut ke Bekasi, Pandeglang, Samarinda, Rembang, Lampung, Depok dan Subang
Kenapa rumah baca? Kami sedih dengan diri kami... minat baca kami sangat rendah. Kami lebih suka membaca medsos, berita-berita online dan sebagainya. Sedangkan buku, mungkin hanya 1 buku dalam satu tahun. Kepiluan ini tidak boleh lestari kepada anak-anak kami, anak-anak lingkungan kami, anak-anak Indonesia. Mereka harus disediakan sarana membaca yang representatif. Mereka butuh memiliki alternatif mengisi waktu selain bermain dan bermain gadget. Dan rumah baca andalusia hadir untuk mengisi ruang-ruang kosong itu.
Memang disadari. Membangun minat baca bukan hal mudah bagi kami yang awam ini. Prinsip kami hanya satu. Saat anak-anak memiliki keinginan untuk membaca, maka mereka tahu harus datang kemana. Saat anak-anak membutuhkan ruang untuk mengisi waktu luangnya secara positif, mereka tahu akan berkunjung kemana. Rumah baca sebagai alternatif pilihan mengisi waktu, secara perlahan akan mengikis waktu-waktu luang yang mungkin akan terisi dengan hal-hal negatif.
Kini. Tugas kami menjaga agar semangat mengembangkan rumah baca para relawan terus bergelora. Dalam sela-sela waktu yang ada, kami coba mendaftarkan beberapa rumah baca pada komunitas-komunitas buku, menawarkan proposal kepada penerbit dan hal-hal lain untuk mendapatkan donasi buku. Selain itu, dalam momentum-momentum tertentu, kami pun mencari donasi dari dermawan, untuk menghelat aktivitas positif buat ibu dan anak.
Fokus Rumah Baca Andalusia memang anak, remaja dan ibu. Karena dalam pemikiran kami, rendahnya minat baca hanya bisa dilakukan dengan ’potong generasi’. Tinggalkan dewasa dan orang tua yang pasti akan sangat sulit diajak mencintai buku dan membaca, fokuslah pada anak-anak, remaja dan ibu. Mengapa? Karena minat baca hanya bisa dibangun dari usia dini dan remaja. Sedangkan kaum ibu menjadi target karena merekalah yang menjadi lokomotif utama dalam meningkatkan minat baca-anak-anak mereka.
Tentu kontribusi ini jauh dan jauh sekali dari cita-cita mulia ”Indonesia, Berdaya, Berguna, Dengan Membaca”
Pastinya... sudah sangat banyak sekali individu maupun komunitas yang berkontribusi lebih besar dan lebih nyata. Sedangkan kami disini, hanya mencoba menaburkan pasir dijalan literasi yang penuh oli hitam ini. Kami mencoba menaburkan debu agar ’Becak-becak” Literasi ini tidak terpeleset mencapai tujuannya. Kami siap jadi alas kaki agar seluruh pecinta literasi mampu membumi dan perlahan mengangkasa. Kami siap jadi kerikil yang mengisi kubangan-kubangan lumpur dijalan agar tidak ada yang terperosok. Kami siap jadi apapun, agar bangsa ini bangkit dengan membaca
Semangat ini terus bergelora, karena di ujung Kabupaten Subang sana, relawan kami, Kang Yayat, yang terbatas dana bahkan untuk sekedar mengisi pulsa, terus bergerak menghindari adik-adik dan anak-anak lainnya dari pengaruh negatif narkoba, free sex dan lainnya. Dengan meminjam halaman rumah penduduk, Rumah Baca Anak Desa Kab.Subang, mencoba melawan arus globalisasi yang dampak negatifnya sangat rentan melibas generasi muda. Bahagia kami saat menerima SMS darinya, walau 2-3 bulan sekali, tentang aktivitas-aktivitasnya, tentang kiriman-kiriman buku yang kami carikan, tentang keriangan-anak-anak yang dibinanya. Kami menafsirkan dari SMS yang dikirimkannya.
Semangat kami juga dari relawan Bekasi, yang rutin mengirimkan foto rumah bacanya yang sesak dengan anak-anak, dengan lomba-lomba sederhana, dengan suara-suara hafalan quran dan lantunan tilawah anak-anak. Ya, selain menjadi rumah baca, relawan kami juga tetap melestarikan Rumah Tahfidz yang telah lama dikelolanya.
Semangat Kami juga ada di Surabaya yang terus bersama-sama menggandeng para bunda untuk mengajarkan cinta membaca pada anak-anaknya. Semangat kami juga ada di Lampung, Depok, Rembang, Pandeglang, hingga  Samarinda. Karena kisah kecil ini, sangat diharap jadi jariyah yang akan menyelamatkan kita semua.
Ampun kami padamu ya Rabb, karena kami menulis kisah ini yang mungkin terselip kebanggaan, terangguk bisikan-bisikan setan, tersembunyi riya dan sum’ah. Ampun kami pada pemilik seluruh kehidupan. Kami hanya ingin menyebarkan optimisme, saling menyemangati, berbagi kisah kecil ini. Jika ini bermanfaat, maka biarlah ini jadi catatan mulia relawan kami. Karena kami hanya ’berpura-pura’ berkontribusi. Padahal, hanya menangkap sepi, sunyi, lalu mati

Salam Semangat Literasi dari Kami
Fajar Sidik – Cik Maryanti

Di Basecamp, Rumah Baca Andalusia, Bumi Allah

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba De Literasi Dompet Dhuafa Republika Tahun 2017
Walau belum masuk nominasi, semoga kisah ini dapat memberi manfaat bagi semua

Selasa, 10 Oktober 2017

Menciptakan Simpul-simpul Sosial Anti Bullying

Jangan salahkan anak-anak jika di sekolah melakukan bullying terhadap teman-temannya. Saat anak tidak prestatif, nilai yang menurun, atau tidak disiplin ke sekolah. Sering orang tua menyudutkan psikologi anak atau anak secara alami mengalami bullying dari orang terdekatnya sendiri.

Jika hal tersebut terus menerus dilakukan, maka anak akan menganggap bahwa tekanan-tekanan psikologi orang tua terhadapnya, merupakan hal yang wajar. Dampaknya, anak-anak akan melakukan hal yang sama kepada pihak lain, atau melampiaskan kegundahannya dirumah pada pihak lain yang menyebabkan terjadinya bullying.

Menghentikan bullying bukan hal mudah. Butuh proses panjang dan menyeluruh serta peran serta seluruh elemen. Jika mengandalkan sekolah untuk mencegah terjadinya bullying, maka hal tersebut mustahil dapat tercapai. Apalagi, sebagian besar waktu dan interaksi seorang anak, justru dilakukan dilingkungan rumah. Apalagi bullying itu hadir karena karakter dan sikap yang terbentuk pada diri seorang anak.

Lalu, bagaimana meminimalisir bullying terhadap anak dan remaja? Proses tersebut perlu dimulai dari pendidikan parenting terhadap orang tua. Bahkan pendidikan tersebut perlu diberikan pada seluruh calon ayah dan calon ibu dan menjadi salah satu nasehat jelang pernikahan berlangsung. Dengan meningkatnya pengetahuan orangtua dan atau calon orang tua, maka bullying yang terjadi pada dunia pendidikan maupun lingkungan sosial, dapat ditekan. Anak-anak memiliki bekal pemahaman yang cukup dari orang tuanya bagaimana berprilaku dan bersosialisasi yang baik dan normal, sehingga terhindar dari prilaku mem-bullying. Kemudian, sekolah memberikan penguatan hal tersebut sehingga anak dan remaja memiliki karakter anti bullying dimanapun berada dan menjadi jaringan sosial yang kokoh untuk mencegah terjadinya prilaku bullying tersebut.

Dengan semakin lenyapnya potensi bullying, maka kerja-kerja LPSK akan semakin mudah dan terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman. Lebih lanjut tugas LPSK untuk melindungi dan 'normalisasi' psikologi para saksi dan korban bullying, tidak lagi perlu dilakukan isolasi khusus. Hal ini karena telah tercipta lingkungan-lingkungan sosial yang memiliki kesadaran anti bullying yang tinggi.

Menuju kondisi tersebut, LPSK perlu membentuk simpul-simpul sosial yang dibina secara khusus untuk menciptakan lingkungan anti bullying. Lingkungan tersebut akan menjadi sarana LPSK dalam melindungi saksi dan korban yang datang menjadi 'pasiennya'. Simpul-simpul sosial tersebut dapat berupa sekolah-sekolah berpredikat anti bullying, atau RT/RW, atau komunitas-komunitas anak dan remaja yang memang di treatment khusus sehingga terbentuk karakter anti bullying. Bahkan lebih kecil lagi, LPSK memiliki data keluarga-keluarga yang menerapkan komunikasi yang sehat dan anti bullying, sehingga LPSK memiliki banyak pilihan-pilihan dalam menempatkan saksi atau korban bullying sesuai kebutuhan bahkan sesuai keinginan mereka.

Apakah ini hanya tanggung jawab LPSK, KPAI, Kemensos atau unit-unit pemerintah lainnya? tentu seluruh masyarakat dapat berpartisipasi dalam menciptakan simpul-simpul sosial ini. seorang kepala RT/RW dapat mengajak warganya untuk meningkatkan kesadaran pada prilaku-prilaku bullying dan merumuskan pencegahannya. Sehingga, dalam rentang waktu tertentu, maka akan terwujud keluarga-keluarga yang anti bullying dan akan mendukung terciptanya RT/RW yang anti bullying. Begitu juga pada komunitas-komunitas sosial untuk memahami prilaku bullying, menciptakan komunikasi yang baik, sehingga terwujud komunitas yang sehat dan anti bullying. Lebih lanjut, dengan terciptanya individu-individu anti bullying maka akan mendukung terwujudnya pencegahan massal bullying di masyarakat, atau minimal akan semakin banyak relawan-relawan anti bullying  yang berani melaporkan aksi-aksi bullying  yang disaksikan dilingkungannya kepada aparat penegak hukum dan atau lembaga/unit yang memiliki tugas dan fungsi terkait.  

Berdasarkan data Kementerian Sosial sebagaimana diberitakan oleh media daring cnnindonesia.com (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170722163858-277-229641/semakin-banyak-yang-melaporkan-kasus-bullying/), memang terjadi penurunan kasus pelanggaran terhadap anak. Pada tahun 2017 hingga periode Juni 2017, tercatat 976 kasus yang dilaporkan. Hal ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yakni tahun 2014 sebanyak 5.066 kasus, tahun 2015 sebanyak 4.309 kasus dan tahun 2016 mencapai 4.620 kasus. Bahkan catatan lebih mengejutkan disampaikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dimana dalam rentang waktu tahun 2011 s.d. 2016 menemukan 23 ribu kasus kekerasan terhadap anak. Namun, khusus kasus bullying  hanya sebanyak 253 kasus dengan rincian 122 anak sebagai korban dan 131 anak sebagai pelaku.

Melihat data tersebut, maka paling penting yang perlu dilakukan adalah melindungi masa depan anak, baik mereka yang menjadi saksi, korban bahkan pelaku. Karena sejatinya anak-anak pelaku bullying juga merupakan korban dari pola pendidikan dan lingkungan sosial yang ada.

Solusi terbaik meminimalisir hal tersebut adalah dengan mewujudkan lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan komunitas yang anti bullying. Bahkan individu-individu dari masyarakat dapat menjadi agen-agen sosial yang dapat berperan menyosialisasikan, mencegah bahkan melaporkan aksi-aksi bullying yang terjadi.

Minggu, 25 Desember 2016

Politik Peci Hitam

"Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia” (Soekarno) 

Peci merupakan sejenis penutup kepala berwarna hitam yang dijadikan simbol kebangsaan oleh Soekarno sejak usianya belia. Saat pertemuan Jong Java di Surabaya tahun 1921, Soekarno bergelut dengan pemikirannya. Saat dimana pemuda lainnya bangga tidak mengenakan penutup kepala dan me-westernisasi penampilannya, Soekarno tampil beda dengan Peci hitam dikepala.
Dalam sejarahnya, Peci hitam merupakan simbol buruh melayu di asia. Sebagai etnis muslim asia, peci hitam tidak pernah lepas dari identitas muslim melayu. Fungsinya sebagai penutup kepala, sekaligus digunakan untuk aktivitas ubudiyah seperti shalat, mengaji maupun berhaji. Dengan melekatnya fungsi tersebut, maka peci hitam semakin dianggap sebagai penutup kepala pengganti sorban/turban. Sehingga wajar jika seluruh foto resmi pemimpin Indonesia menggunakan peci hitam sebagai representasi ke-Indonesiaan sekaligus simbol religiusitas muslim melayu.
Telah sejak lama, peci hitam sebagai identitas keislaman dipergunakan sebagai sarana pendekatan politik. Hampir seluruh kontestan dalam kontestasi perpolitikan Indonesia, baik jenjang Pilkada, Pileg maupun Pilpres, menggunakan peci hitam sebagai alat mencairkan komunikasi politik. Hal ini tentu mahfum mengingat peci hitam merupakan simbol islam tradisional yang digunakan oleh pesantren-pesantren di Indonesia. Bahkan kemudian identitas tersebut bergeser menjadi identitas bangsa yang dipakai oleh seluruh kalangan, baik yang tradisional maupun terhadap mereka yang merepresentasikan dirinya sebagai masyarakat moderen.
Mendekati pesta demokrasi tahun 2019, tensi politik semakin meninggi. Berbagai komunikasi politik digunakan oleh seluruh tokoh dan penggiat partai politik. Tujuannya tidak lain untuk meraih simpati konstituen. Kompetisi demokrasi kedepan akan semakin cair, sehingga seorang Ketua Parpol Perindo yang bukan beragama islam, tidak lagi risih memakai Peci di kepalanya, bahkan berkunjung ke pesantren-pesantren untuk menyampaikan pemikiran politiknya. Hal ini menyiratkan bahwa peci hitam telah dijadikan simbol kedekatan kultural oleh para politisi. Masyarakat pun ketika terdapat seorang tokoh yang memakai peci hitam, merasa lebih nyaman karena dianggap merepresentasikan keislaman, atau minimal memiliki kecenderungan untuk mendukung identitas keislaman.
Tidak hanya politisi, tokoh-tokoh pengusaha nasional pun menggunakan peci hitam dalam beberapa lawatannya ke beberapa ulama Indonesia. Peci yang selama ini dianggap sebagai representasi keislaman Indonesia, digunakan oleh umat beragama lain dalam menjembatani kesenjangan keyakinan sehingga komunikasi politik dapat berjalan lebih baik.
Penggunaan peci hitam oleh kalangan diluar islam, buklanlah suatu hal yang terlarang. Apalagi Soekarno telah mempopulerkan peci hitam sebagai identitas bangsa Indonesia, bukan sekedar identitas muslim melayu. Meskipun Soekarno menyadari bahwa peci hitam diangkat dari budaya muslim melayu yang berbeda dengan identitas muslim arab saat itu.


Telah sejak lama peci hitam menjadi trendsetter busana politisi maupun pengusaha dalam berkomunikasi dengan ulama dan santrinya. Namun, menjadi booming setelah hadirnya politisi-politisi non-muslim yang melakukan personal branding menggunakan peci hitam. Tentu hal tersebut bukanlah hal tabu. Justru kondisi ini menunjukkan dominasi suara muslim Indonesia dalam menentukan arah perpolitikan nasional. Seluruh politisi menyadari bahwa suara muslim sangat potensial dalam setiap pertarungan demokrasi, baik lokal maupun nasional. Sehingga, penggunaan peci hitam sebagai representasi budaya muslim yang dijadikan simbol nasional, menjadi sarana efektif dalam mencapai tujuan komunikasi politik yakni pencitraan dan pembentukan opini publik.
Untuk mencapai suatu citra politik, peci dapat menjadi alat untuk mencairkan komunikasi politik yang akan dilakukan seorang tokoh. Apalagi, tokoh tersebut memiliki keyakinan yang berbeda dengan pihak yang menjadi target komunikasi politik. Penggunaan peci hitam tentu menjadi pesan ’bisu’ pada target audiens bahwa posisi politik yang dimilikinya, sama dengan posisi politik audiensnya. Dengan posisi yang sama tersebut, maka komunikasi akan lebih mudah diterima.
Selain itu, penggunaan peci hitam bertujuan membentuk opini publik bahwa isu-isu keagamaan bukan lagi masalah pokok yang perlu diperdebatkan. Seluruh perbedaan agama, etnis dan lainnya, dapat disatukan dalam cita-cita politik bersama yang disepakati. Sehingga, peci dipaksa bergeser kembali pada makna awal yakni sebagai simbol kebangsaan dibandingkan simbol keagamaan.
Jika menelisik penggunaan simbol-simbol agama dalam menarik dukungan politik, hal tersebut sudah sangat lumrah. Bahkan sebagian tokoh yang menolak politisasi agama, saat berkampanye pun menggunakan simbol-simbol keagamaan. Hal ini tidak lain karena politik indonesia masih kuat nilai-nilai religiusitasnya, khususnya buat kalangan muslim. Karena bagi seorang muslim, politik juga bagian tidak terpisahkan dari ibadah sosial. Namun, menggunakan simbol-simbol keagamaan tanpa diiringi komunikasi politik yang baik, sama seperti memotong kaca dengan batu. Tidak mungkin terpotong, yang terjadi pecah berkeping-keping.
Untuk mengimbangi simbol-simbol keagamaan seperti peci, kerudung atau sorban, maka seorang tokoh politik perlu memahami realitas sosial audiens yang akan diajak berkomunikasi. Realitas tersebut, harus tercermin dalam bahasa politik yang disampaikannya. Tentu akan terjadi kontradiksi ketika seorang tokoh menggunakan peci hitam namun berbicara melebihi nada tokoh lokal yang disegani. Pun begitu ketika tokoh politik yang menyambangi audiens disuatu daerah, tanpa ’kulo nuwun’ dengan ulama setempat yang menjadi rujukan masyarakatnya. Terpenting, penggunaan simbol-simbol religiusitas tertentu, perlu diikuti dengan memahami makna guna meminimalisir miss-interpretasi.
Penggunaan peci hitam yang sejak awal menjadi simbol kebangsaan, tidak mampu menggeser image peci sebagai pakaian spiritual umat islam. Dengan fakta seperti ini, maka wajarlah ketika tokoh-tokoh non-muslim, menggunakan peci sebagai sarana komunikasi politiknya kepada umat islam. Disempurnakan dengan komunikasi yang baik dengan ulama lokal setempat, maka program-program politik yang ditawarkan akan lebih mudah diterima muslim tradisional yang berprinsip ’ikut pak Kyai saja’
Politik peci hitam akan semakin menghiasi media-media nasional di Indonesia. Semakin mendekati pemilihan umum tahun 2019, komunikasi politik si peci hitam, akan semakin intensif dan memakan banyak insentif. Meskipun demikian, seiring derasnya arus informasi yang datang kepada seluruh lapisan masyarakat, politik peci hitam akan sulit digunakan pada masyarakat yang terpapar informasi secara simultan. Namun, untuk komunitas yang memiliki akses informasi yang terbatas, maka politik peci hitam akan menjadi andalan utama. Semoga tidak terjadi distorsi makna peci hitam. 

Terbit Dakwatuna 25/12/2016
Link : http://www.dakwatuna.com/2016/12/25/84396/politik-peci-hitam/#axzz4ToWbv6Jm

Kamis, 24 November 2016

Unair dan Secangkir Kopi Pahit

Berpojok di galeri gedung
Bercerita ngalor-ngidul tanpa juntrung
Ditemani secangkir kopi hitam mendingin
Tanpa nikmat, tanpa rasa
Sekedar pembasah kerongkongan saja

Sementara ada juga yang asyik memainkan keyboard
Beberapa lainnya khusyu' ngompol*
Ada juga yang sekedar gaul dan membunuh gelap
Sambil sesekali ditemani asap sate yang mengepul
Yang cukup dengan aromanya, lambung mengenyang

Mungkin suasana itu hanya dapat ditemui di Unair. Kampus ternama di Surabaya yang sedang mengejar cita-cita menjadi World Class University. Memang fakultas sosial semakin malam akan semakin hingar bingar. Semakin hidup, dinamis dan lepas. Itulah suasana Gedung A FISIP Unair nyaris tiap malam.

Suasana yang demikian, memang kelasnya mahasiswa sederhana. Nongkrong gratis sambil menyeruput kopi plus kacang goreng yang sedikit gosong. Pergaulan mahasiswa memang murah meriah bermodal secangkir kopi pahit saja. Kopi yang biasanya ditenggak hingga ampas-ampasnya kering. Kopi yang kadang menjadi penambah nikmat sebatang sampoerna. Kopi yang lebih sering menjadi alat pergaulan dibandingkan pengusir kantuk

Seperti itulah kopi dimaknai secara berbeda. Para penjaja semakin rikuh dengan pesanan. Ya...
mereka yang menggantungkan hidup dari seteguk kopi hitam makin menjamur disekitar kampus B Unair. Buka selepas isya dan tutup menjelang shubuh. Balada secangkir kopi yang kadang kita remehkan keberadaannya. Padahal, mereka yang menghidupkan diskusi pemikiran, teman setia menuntaskan tugas, sahabat untuk pergaulan, hingga 'wasilah' mendapatkan rezeki

Kopi dan Unair telah menjadi dua sejoli. Bayangkan, jika kopi lenyap atau para penjaja kopi memboikot berjualan, maka matilah kampus itu. Tak ada lagi suara, bahkan desahan nafas dari tembakau yang terbakar akan lenyap.

Nampaknya, Kopi dan Unair dan kampus-kampus lain, akan tetap menjadi teman setia. Ingat terminologi 'teman setia' yang heboh jelang Pilkada DKI Jakarta :). Yaa.... seperti itulah teman setia. Tentu kita tidak perlu berdebat tentang arti kata yang dimaksud. Karena hal itu bukan substansi dan core mahasiswa ataupun penjaja kopi. Biarkan itu tetap ditangan mereka yang berkompeten. Yang penting.... Kopi dan Unair itu Teman Setia... Ingin menikmati suasana itu? Mari bergabung di Unair, Kampus Integrity With Morality. Salam Seruput!

*Ngompol = Ngomongin Politik
Lomba : www.unair.ac.id dan http://bpp.unair.ac.id/ketentuanlomba

Recent Posts