Senin, 27 Juni 2011

Menuliskan Bait-Bait Reformasi Birokrasi

Add caption
”Kata-kata tidak mengenal waktu. Kita harus mengucapkannya atau menuliskannya agar menjadi abadi.”  Inilah prinsip yang dipegang teguh oleh aristokrat, cendikiawan maupun filsuf. Perkataan dan tulisan dijadikan sarana paling efektif dalam melestarikan pemikiran-pemikirannya.Sehingga wajarlah jika hingga saat ini, kearifan hidup Plato, kecerdasan Einstein, kemuliaan Muhammad, maupun ketokohan Soekarno, tetap hidup dan menginspirasi manusia dunia.



Perkataan memang mampu membangkitkan jiwa manusia. Namun, kekuatan ’magis’ perkataan hanya ’menyihir’ orang-orang yang mendengarkannya saja. Bandingkan antara mereka yang hadir langsung dalam pidato Soekarno yang heroik dan sangat nasionalis, dengan generasi saat ini yang memperolehnya dari ’dongeng’ para orang tua. Tentu aura semangat tersebut tidak merasuk ke dalam jiwa-jiwa mereka.  


Perkataan dapat menjadi sarana efektif melakukan transformasi pemikiran. Namun seiring waktu, ’hipnotis’ perkataan akan lenyap dilupakan zaman. Karena itu, agar kekuatan perkataan ataupun pemikiran dapat terus lestari, perlu dilakukan pendokumentasian. Salah satu bentuk pendokumentasian tersebut diantaranya melalui media tulisan. 


Mengutip perkataan Anggito Abimanyu dalam acara bedah buku Era Baru Kebijakan Fiskal bahwa menulis bukanlah pekerjaan sulit. ”Menulis buku, seperti menulis lagu yang mengasyikkan,” ungkapnya. Lebih lanjut, kepala Badan kebijakan Fiskal ini menekankan pentingnya menulis buku sebagai tinta emas sejarah yang akan memberi manfaat bagi generasi yang akan datang. Karena harus disadari bahwa setiap guratan sejarah yang dialami bangsa ini, akan menjadi investasi berharga bagi generasi bangsa berikutnya. Dan apabila hal demikian ’gagal’ dituliskan, kemanakah anak-anak bangsa akan berguru?


Menulis buku seperti second wife bagi beberapa orang. Bahkan karir paling membanggakan bagi seorang penulis adalah ketika mampu menghasilkan karya bagi negerinya sekaligus mampu memberikan manfaat lintas generasi. Karena karir tertinggi bagi seorang cendekiawan adalah berfikir keras untuk kemajuan organisasi dan mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca oleh siapapun.


Menulis harus menjadi virus yang selayaknya disebarkan. Dalam bahasa Prie GS, seorang budayawan, menulis harus menjadi ”siklus latahisme” yang menggoda orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu bukan untuk mengajak orang lain melakukan duplikasi karya. Tapi lebih kepada menginspirasi pihak lain untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi.


Perjalanan reformasi birokrasi departemen keuangan dapat dijadikan ranah megah untuk dituliskan dalam tinta sejarah negeri. Proses transformasi organisasi dari birokrasi primitif menuju good governance organization merupakan suatu catatan sejarah negeri yang penting untuk didokumentasikan. Menkeu, Sri Mulyani Indrawati dalam artikelnya menggambarkan proses reformasi birokrasi sebagai perjalanan panjang departemen keuangan dalam upayanya bertransformasi dari departemen yang mengedepankan sistem birokrasi kuno, menjadi departemen yang mengutamakan pelayanan yang terbaik bagi seluruh stakeholdernya, dan pada saat yang sama tetap menjaga kinerja dalam mengelola anggaran dan pendapatan Negara secara berkesinambungan dan semakin terpercaya. Untuk itulah, proses yang penting ini perlu diabadikan. Tentu bukan sekedar proses perubahannya saja, tapi juga sisi-sisi menarik lain yang menyertai proses perubahan tersebut.


Untuk Ditjen Perbendaharaan, proses pembentukan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Percontohan, dapat dijadikan kisah yang menarik untuk dituliskan. Keheroikan aktor utama dalam mereformasi birokrasi di Ditjen Perbendaharaan, menjadi cerita inspiratif bagi generasi yang akan datang. Mulai dari pertentangan mindset antara pegawai berpola fikir ’jadul’ dengan pegawai baru yang jauh dari kontaminasi birokrasi usang, penerapan assessment secara ketat, hingga ’pengungsian’ besar-besaran pegawai bermindset lama. Proses reformasi birokrasi ini memang menimbulkan friksi diinternal organisasi. Namun itulah konsekuensi sebuah perjuangan integritas. Menurut filsuf Lynne McFall, tidak ada integritas tanpa risiko. Dan seorang yang memiliki integritas itu, rela menanggung akibat dari keyakinannya termasuk jika hal tersebut sangat sulit atau menimbulkan keadaan tidak menyenangkan. Inilah yang dipegang teguh penggerak reformasi birokrasi di departemen keuangan, lebih khusus lagi Ditjen Perbendaharaan. Lalu, akankah prestasi gemilang ini tergilas zaman tanpa ada yang mendokumentasikannya?


Banyak hal yang dapat didokumentasikan atas kinerja yang dilakukan Ditjen Perbendaharaan. Selain proses pembentukan KPPN Percontohan, hal penting lainnya yang dapat didokumentasikan yakni proses ’evolusi’ IT melalui proyek Sistem Perbendaharaan Anggaran Negara (SPAN), proses implementasi Treasury Single Account (TSA), ataupun rencana peluncuran Treasury Dealing Room (TDR). Bukankah akan lebih komprehensif jika menuliskan bait demi bait proses yang selama ini dilakukan, dibandingkan merangkumnya setelah beberapa tahun kemudian.


Setiap orang, memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan karya bagi organisasinya masing-masing. Karena hak ini tidak hanya milik pegawai yang ditempatkan pada kantor pusat saja. Pegawai yang ditugaskan didaerahpun, dapat menuliskan ide-ide cerdasnya untuk kemajuan organisasi ataupun sekedar evaluasi dari proses yang selama ini telah berjalan. Bahkan, pengalaman unik ketika bertugas di daerah terpencilpun dapat menjadi karya yang berguna bagi kemajuan organisasi. Karena itulah, sudah saatnya kita menuliskan jalannya proses reformasi birokrasi beserta suka dukanya. Jika untuk menjadi sebuah buku masih sangat sulit karena kesibukan kerja, maka mulailah untuk mempublikasikannya melalui situs perbendaharaan ataupun Majalah Treasury.


Terakhir, harus disadari bahwa reformasi birokrasi bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu malam. Sejak proses perubahan ini berjalan, banyak kemajuan yang diperoleh, persepsi masyarakat mulai berubah, bahkan apresiasi dan penghargaan mulai diberikan. Namun, perbaikan institusi adalah proses belajar seumur hidup. Proses ini tidak akan pernah selesai karena akan terus dilakukan sepanjang masa. Untuk itu agar sejarah reformasi birokrasi ini tetap dikenang, segenap elemen perlu menuliskannya sebagai investasi berharga bagi generasi akan datang. Minimal, generasi yang akan datang memiliki kesadaran dan komitmen yang kokoh untuk melanjutkan kerja keras selama ini. Meskipun Ibu Sri Mulyani tidak menjadi ’panglima’ di Kementerian Keuangan lagi, namun guratan-guratan perubahan yang beliau torehkan selayaknya dilanjutkan. Hingga Indonesia sejahtera!
(http://perbendaharaan.go.id/new/index.php?pilih=news&aksi=lihat&id=2393)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts