Selasa, 28 Juni 2011

Saatnya Mengasah Kedermawanan

Marhaban Ya Ramadhan. Kalimat itulah yang seharusnya mengalir dari nurani umat Muhammad.  Meski separuh ramadhan telah dilalui, ungkapan rasa syukur karena dipertemukan dengan bulan kesucian ini harus tetap terlantunkan dari lidah umat. Bukankah bulan berkah ini akan terus membina kita untuk menshalihkan kebinalan, mengelola hawa nafsu dan media pengasah kedermawanan umat. Sehingga, ketika bulan harapan ini berlalu, akan berdampak pada peningkatan kualitas mahabbatullah kita.      Manusia tentu sadar akan hakikat penciptaan dirinya. Dalam salah satu ayatnya, Allah berujar  “ Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan  untuk beribadah pada Ku” (Adz-Dzariyaat : 56). Inilah misi utama manusia dilahiran ke bumi. Bukan untuk menimbulkan kerusakan alam, sekedar menimbun harta, meraih jabatan maupun segala kehedonan lainnya. Manusia tercipta dan senagaja diciptakan untuk mengabdi pada yang menciptakanNya. Lalu, bagaimana implementasinya dalam kehidupan ?


Penghambaan manusia kepada sang Khalik, tidak hanya dapat dinilai dari rutinitas ibadah sehari-hari seperti shalat maupun puasa yang tengah dijalani umat islam saat ini. Kualitas ibadah maghdah tersebut makin bersinar, jika seorang muslim turut peduli secara social terhadap saudara-saudara disekitarnya. Bukankah Allah melaknat muslim yang tidur pulas dengan perut kenyang sedangkan tetangganya masih ada yang kelaparan. Inilah islam yang tidak hanya mengatur aspek-aspek ubudiyah umatnya. Tapi juga mengarahkan pengikutnya untuk senantiasa bermuamalah terhadap sesama.

Dalam bulan ramadhan ini, setiap muslim dirangsang untuk meningkatkan kepedulian sosialnya. Iming-iming pahala yang berlipat ganda, mampu merangsang nurani insani untuk memperkuat kualitas kedermawanannya. Hal ini terbukti dengan ramainya agenda-agenda bakti sosial yang diselenggarakan oleh masyarakat biasa, parpol,  ormas hingga kalangan artis. Mulai sekedar buka puasa bersama dengan anak yatim piatu, membuka bazaar sembako murah hingga program mudik gratis. Terlepas berbagai motif yang menyertainya. Suatu hal pasti bahwa ramadhan memang bulan berkah yang mampu merangsang jiwa sosialis umatnya.  

Kedermawanan atau yang lebih tren dengan kata filantropi merupakan salah satu perintah Allah terhadap umatnya. Dalam Al-Quran, kedermawanan tersubtitusikan dengan kata Amal Shalih yang statusnya sejajar dengan shalat maupun jihad. Dalam kehidupan, amal shalih ini terjewantahkan dalam bentuk zakat, infak dan shadaqah. Dan orang-orang berharta, selayaknya memperhatikan perintah ini dengan penuh kearifan. Karena sesungguhnya, setiap rupiah harta anda, akan dimintakan pertanggungjawabannya secara detail tanpa celah.

Menilik kondisi umat kini, perintah amal shalih ini tidaklah populer. Terlebih lagi dikalangan kaum berdasi. Maklumlah, gaya hidup moderen menuntut segala sesuatu secara instan. Begitu juga kontraprestasi dari kedermawanan yang dilakukan mereka. Padahal, patutlah dipahami juga bahwa kedermawanan dan atau kepemurahan merupakan salah satu karakter utama (akhlaq mahmudah) yang senantiasa perlu dimiliki, ditumbuhkan, dan dikembangkan oleh setiap pribadi Muslim yang mengharapkan kesuksesan dalam hidup dan kehidupannya. Bukan kesuksesan material, tapi sukses mengelola batin dan menumbuhkembangkan kesejahteraan umat. Dan hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis riwayat Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Kepemurahan dan kedermawanan akan mendekatkan diri kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, dan kepada surgaNya, serta akan menjauhkan dari siksa dan azabNya.”  Sebuah motivasi yang luar biasa untuk mendorong seluruh manusia, yang kaya maupun dhuafa, untuk giat beramal shalih dan konsisten dengan hal itu. Hanya saja, tuntutan untuk me’warisi’ sedikit hartanya memang terletak dipundak orang berpunya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Thabrani dari Abu Darda. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, "Apakah engkau menginginkan kepuasan dan kesuksesan batin serta terpenuhi kebutuhan hidup? Sayangilah anak yatim (dhuafa), usaplah kepalanya, dan berikanlah makanan yang sama dengan makanan yang engkau makan. Pasti engkau akan mendapatkan kesuksesan batin dan akan terpenuhi kebutuhan.

Dalam salah satu artikelnya, Jalaludin Rakhmat menulis bahwa pencapaian ketakwaan tertinggi seorang muslim bukan hanya didapat dari shalat ataupun puasa. Tapi, sisi filantrofi dan ketulusan untuk nafi’un bi ghairi (bermanfaat untuk orang lain) yang menjadi pembuktiannya. Karena itu jelas bahwa shalat dan puasa tidaklah cukup membuat kita mulia dihadapan Allah. Karena sesungguhnya, aplikasi nyata dari kedua ibadah wajib tersebut adalah berderma untuk sesama, baik dengan harta, tenaga maupun pikiran. Karenanya, yang diperlukan saat ini adalah mengasah sensitivitas social. Beberapa kontribusi yang dapat dilakukan diantaranya membantu kaum papa dengan harta bagi orang kaya, menentramkan hati mereka dengan ayatullah bagi pendakwah dan merumuskan konsep pemberdayaan umat bagi intelektual. Sinergi ketiganya menjadi pondasi kokoh membangun masyarakat muslim yang madani. Karena bagaimanapun, kemiskinan sangat potensial membawa pada kekufuran, kada al-faqru yakunu kufran. Kenyataan ini sangat cukup menjadi alasan bagi wajibnya memerangi kemiskinan dengan mengasah kedermawanan umat.

Hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengasah sisi filantropi ini adalah dengan menyadari dan menyelami hakikat penciptaan manusia. Bukankah manusia diciptakan untuk menyembahNya ? beribadah untukNya ? dan setiap aktivitas didermakan padaNya ? lalu kenapa manusia masih saja picik memikirkan ambisi pribadinya dan melupakan perintah Illahi untuk membantu sesamanya. Karenanya, harus disadari bahwa seluruh harta yang berada digenggaman kita adalah titipanNya. Ketika kematian mendatangi, maka seluruh manusia membawa hal yang sama yaitu sehelai kain kafan yang melilit menutupi aurat. Seluruh harta akan ditinggalkan dan tenggelam bersama dunia yang kita tinggalkan. Selagi ada waktu menjadi relawan Illahi, optimalkan kesempatan tersebut. 

Sadarilah, sudah menjadi fitrah manusia untuk menjadi dermawan. Seorang alcoholic pun sangat dermawan terhadap sesamanya. Hanya saja, kedermawanannya tersebut dalam kemunkaran. Pun begitu nilai filosofi dari perintah menikah yang disunahkan rasul. Satu dari sekian banyak tujuan sucinya adalah pengalihan tanggung jawab menafkahi. Orang tua yang semakin renta tentu akan semakin sulit untuk terus menafkahi anaknya. Untuk itu, pengalihan tanggung jawab ini merupakan bentuk lain dari kedermawanan seorang pemuda.

Selanjutnya, ingatlah selalu akan kematian. Seandaiya manusai bisa bernegosiasi dengan sang pencabut nyawa, maka mudahlah untuk tobat beberapa saat menjelang ajal dan mati dalam keadaan khusnul khatimah. Sayangnya, Allah ingin melihat konsistensi manusia dalam mengabdi padaNya. Karena itu, tidak ada waktu untuk menunda-nunda beribadah dan beramal shalih. Bisa jadi saat ini izrail telah berada diubun-ubun kepala kira. Hal yang pasti dialami manusia adalah kematian. Mempersiapkannya dengan ketaatan adalah jalan terbaik yang memang sewajarnya dilakukan.

Terakhir, cintailah kaum dhuafa sebagai saudara seiman. Kedermawanan tumbuh subur dihati yang selalu bersyukur. Untuk itu, mengetahui kesulitan kaum papa dapat menjadi obat mujarab untuk menyulap hati yang tandus agar hijau kembali. Berkunjung ke rumah sakit, daerah-daerah kumuh, dan sentra-sentra kemiskinan lainnya, mungkin akan membuat kita menjadi manusia yang selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan. Tidak cukup disitu saja, kita juga harus membangkitkan spirit kedermawanan yang tertidur di sanubari, agar tergerak untuk berkontibusi positif bagi kehidupan mereka.

Radar Lampung, 18 September 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts