Jumat, 17 Juni 2011

Senyum Bakrie, Duka Mereka!


Aroma itu semakin menyengat. Menusuk hidung mereka yang papa, tak berdaya sekaligus tumbal kesalahan individual korporasi. Alih-alih memperoleh keadilan, justru Mereka membeli sendiri tanah, rumah, dan ladang dengan uang sendiri. Hanya sebagian saja yang dibeli dari kantong ’brantas’ yang tak pernah tuntas membayar lunas.


Tanpa dianalisapun, bencana nasionalnya ’bakrie group’ itu, telah menindas para korban. Hasil bumi yang seharusnya mereka nikmati, ketenangan hidup berkeluarga meski hanya di bawah atap reyot nan lapuk, langkah-langkah kecil anak-anak mereka yang berjingkrak menuju sekolah, musnah sudah. Lenyap ditelan ambisi emas hitam yang digadang-gadang Lapindo Brantas.

Kini, wajah-wajah mereka tertunduk layu. Mata-mata mereka yang dahulu berbinar melihat ladang yang menguning, berubah meneteskan air mata. Pemandangan indah itu telah berubah total. Berganti dengan lautan lumpur dan pucuk-pucuk rumah yang ’mengintip’ diantara kubangan tersebut. Bola-bola raksasa, bendungan, hingga berbagai taktik dan strategi menutup semburan lumpur panas, gagal total. Mungkin memang karena ketidakmampuan. Tapi mungkin juga ada kepentingan bisnis lainnya. Bukankah tanah-tanah maha luas itu akan ditinggalkan pemiliknya. Bukankah petak-petak rumah yang tergerus lumpur akan dihargai sangat murah. Bukankah ini terkait investasi jangka panjang yang akan dipetik hasilnya setelah semburan berhenti. Bagi seorang kapitalis, maka peluang itu sangat mungkin. Tapi lagi-lagi, ini hanya analisa ’cetek’ dari seorang putra sumatera.

Hari ini, kantong uang para korban semakin menipis. Bagaimana tidak, cash and carry yang mereka peroleh ter’konsumsi’ untuk hidup. Sedangkan ladang-ladang uang, gerobak-gerobak pencari nafkah, warung-warung pengumpul dolar, telah lenyap. Mereka menganggur meratapi nasib. Memakan takdirnya ’bakrie group’ yang seharusnya hanya di nikmati perusahaan besar itu saja. Tidak perlu dibagi-bagi kepada rakyat dan Negara.



Lebih miris, kesalahan korporasi tersebut sebagian ditanggung Negara. Lebih sadis lagi, daerah yang tidak masuk wilayah terkena dampak, ditanggung Negara secara keseluruhan. Paling aneh, kalkulasi ganti rugi kepada korban seperti jual-beli tanah saja. Tidak dihitung kerugian moril, ’akrual’ pendapatan yang diperoleh dari ladang-ladang ’nafkah’ mereka. Bahkan, mata pencarian yang lenyap, tidak dipikirkan oleh Lapindo. Sungguh hal ini sangat tidak humanis, dzalim dan menghina kemanusiaan.

Lima tahun sudah lumpur ’bakrie’ menelan angan, cita-cita dan harapan mereka. Setengah dasawarsa mereka lewati dalam keprihatinan yang teramat sangat. Meski dua periode kepresidenan telah berjalan dan sebagian wakil rakyat telah berganti, korban lapindo tetap menangis meratapi nasib. Tak ada yang mampu menghapus guratan-guratan kekecewaan diwajah mereka. Karena semua janji sering terkhianati. Semua harap hanya pengantar lelap. Entah dengan cara apa kini mereka berjuang meneruskan sisa umur. Sedangkan anak-anak sebagai pelita jiwa, terancam putus sekolah karena ’gabah’ tak berisi lagi. Siap yang peduli kepada nasib mereka kini? Pemerintah, lapindo atau anggota dewan? Pastinya mereka akan diperhatikan. Terutama menjelang Pilpres, Pileg, atau Pilkada. Selain itu, hanya ’malaikat’ yang mau melakukannya.

Ada tokoh internasional yang mengatakan bahwa mimpi sekarang adalah kenyataan esok hari. Namun sayangnya, slogan ini terlalu menyayat hati para korban lapindo. Karena mimpi mereka hari ini tentang kesengsaraan, ketidakadilan dan kedzaliman. Bahkan banyak diantara mereka, yang enggan memejamkan mata untuk sekedar melelapkan jiwa. Mereka trauma akut dengan kisah Lapindo. Kisah yang membuat air mata berderai. Kisah yang memupuskan kisah kehidupan mereka sendiri. Kisah yang menjadi catatan buram bagi masa depan anak-anak mereka sekaligus noktah hitam dalam sejarah bangsa yang mengebiri hak korban demi menyelamatkan individu.

Hari ini, lobang lumpur itu masih menganga, masih memuntahkan isi bumi. Mungkin bumi juga sudah muak dengan keangkuhan para kapitalis yang mengeksplorasinya secara berlebihan. Kini bumi sedang menunjukkan kekuatan sekaligus kekecewaannya. Khalifah yang diberi amanah menjaga dan melestarikannya, justru mengoyak-koyak tubuhnya.

Sidoarjo berkabung. Ribuan jiwa terlantar, kehilangan harapan yang hanyut bersama lumpur. Ladang terendam, rumah tenggelam. Malam di sidoarjo makin kelam. Hanya satu dua titik cahaya bersinar. Itupun datang dari api rokok para pekerja peninggi bendungan. Porong sunyi senyap. Tak tampak lagi cahaya kerlap-kerlip yang dahulu menghias langit, tergantikan dengan nada tak beraturan lumpur yang meluap-luap. Setitik bercak dari peta dunia itu, nyaris menjadi kota mati. Tewas dibunuh ambisi pencari emas hitam yang lalai membuat perencanaan. Meskipun kemudian kekuatan uang berhasil memanipulasinya menjadi bencana alam.

Seharusnya kita hapus air mata yang menganak sungai di wajah-wajah mereka. Karena bagaimanapun, mereka anak-anak bangsa yang tertindas kebijakan ’culas’ Negara. Sungguh mereka membutuhkan harapan-harapan mereka dikembalikan, bukan sekedar ganti rugi atau ganti untung. Mereka membutuhkan dapurnya berasap seperti dulu, anak-anak mereka dapat berseragam kembali, dapat berteduh dari panas dan hujan kembali. Mungkinkah semua itu terwujud tanpa itikad baik ’bakrie’ dan Negara? Sedangkan kami hanya mampu berdoa agar cahaya Illahi tetap ada dan menggairahkan hidup kalian. Teruslah hidup, tuntutlah hak kalian secara penuh dan buktikan bahwa kita mampu melawan kediktatoran uang.
(http://www.satuportal.net/content/lomba-artikel-5-thn-kasus-lapindo-senyum-bakrie-duka-mereka)

4 komentar:

  1. Mantabs kanda..:)
    Mari terus berjuang!
    bekerja untuk Indonesia...:)

    BalasHapus
  2. congratulation, we have to write and memorize it so it wont happen anymore.

    BalasHapus
  3. Kami semua harus terus belajar tentang pemikiran2 bernas Saudara Fajar

    BalasHapus
  4. mantab...Jangan kau diamkan potensi luar biasa itu mas bro

    BalasHapus

Recent Posts