Rabu, 06 Juli 2011

Kita (Indonesia) Masih Punya Harapan


Akhir-akhir ini, celoteh kaum Ibu seperti parkit keroncongan. Mereka marah, geram, menangis, mencaci menista bahkan bila mampu akan membunuh. Tapi, semua itu hanya celotehan kosong dari kesengsaraan yang menimpa. Belum teratasi krisis pangan yang berdampak pada mahalnya sembako. Sudah diserobot lagi oleh kenaikan harga bbm (Bahan Bakar Minyak) yang buat rakyat Indonesia BBM (Benar-Benar Miskin).


Logika Negara memang tidak bias disejajarkan dengan perut-perut kaum proletar. Analisis mendalam yang digemborkan pemerintahpun hanya dianggap kebodohan dalam mengelola Negara olehnya. Bukankah dibentuknya Negara untuk melindungi warganya, mensejahterakannya dan memberikan jaminan kehidupan lebih baik. Itulah celoteh ringan tapi menusuk nurani-nurani yang suci dari noktah bangkai kehidupan. 

Ini hanya sebuah refleksi kondisi negeri ini. Dimiskinkan, dibodohi, dan ditindas oleh globalisasi dunia. Perut-perut bumi yang kaya akan minyak, gas dan berbagai hasil tambang lainnya, lunas dilego pada investor asing. Tanah-tanah subur yang mampu menyulap kayu dan batu menjadi tanaman, sukses disulap menjadi beton-beton kokoh pencakar langit. Bahkan hutan selaku petugas penjaga iklim dunia, Hancur diluluh lantakan oleh keangkuhan dan kerakusan para cukong. Adakah harapan bagi negeri ini untuk bangkit ?

Teriakan perubahan, kesejahteraan, dan kemakmuran terus bergemuruh. Tapi tetap saja Indonesia menjadi negeri miskin, tanah subur para koruptor. Negeri ini menjadi sarang penyamun yang mengekspoitisir ladang-ladang kemakmuran rakyat. Limpahan emas pemilik harta, taburan mobil mewah dijalan nan megah, pasar-pasar bercahaya mutiara dan kamar-kamar penginapan berharga dolar, bukan jaminan Indonesia kaya. Faktanya, dibawah aspal dan beton jalan raya, diselokan pabrik berasap uang, dan dipintu wahana perbelanjaan yang berlantai emas, penuh dengan tangan-tangan dekil keriput, dihiasi tangisan bayi yang perutnya tengah meraung dan si Kakek yang meringkuk lemah berbalut kulit selapis ari. Inikah gambaran negeri yang kayu dan batu bisa menjadi tumbuhan. Sikaya semakin hidup bergelimang. Sedangkan kaum dhuafa tetap bergelut dengan kelaparan dan ketertinggalan. Inikah negeri yang lautnya diibaratkan mutiara dan tanahnya berlimpah anugerah tuhan ? 

Tentu menjadi kontras. Ketika sikaya makan mewah beralas perak sedangkan si miskin hanya mengunyah aking sambil berebut. Saat putra sang kaya pergi bermercy kesekolah paling ter (terbaik, terpopuler, terlengkap). Diseberangnya, bocah paria bersengut dengan kasarnya aspal menuju perpustakaan ilmu yang ter (terjelek, terpelosok, terpinggirkan). Nampaknya, pertentangan ini akan terus berlanjut. Terlebih, pemimpin Negara telah lenyap jiwa sosialisnya. Dibagian timur negeri ini buktinya. Ketika rakyatnya tinggal digubuk reotnya, sang bupati menancapkan langit dengan atap rumahnya yang menjulang tinggi. Ketika gizi buruk melanda dan anak-anak tak bersekolah, para Mas’ul bergerilya menganggarkan mobil dinas mewah. Alasannya ? demi meninggikan prestise agar tidak lagi disebut Nusa Tenggara Barat (BAnyak Rakyat melarAT). Atau demi menopang kinerja yang nyatanya si mewah itu enggan berlumpurkan rute desa miskin. Memang sungguh luar biasa dan benar-benar diluar kabiasaan manusia. Jika sang ketua gerombolan gajah mati-matian membela anggotanya yang diserang kelompok lain. Tentu tidak masuk akal ketika pemimpin manusia yang dikarunia kelebihan berupa akal, sangat cuek dan menyepelekan kondisi rakyatnya. 

Masihkah ada pengharapan dari kenestapaan ini ? tentu ada. Indonesia masih memiliki kita semua, pemuda dan pemudi yang peduli akan nasib rakyat ini. Sejarah telah mencatat. Perubahan yang terjadi dinegeri ini bahkan diseluruh dunia, dipelopori oleh kaum muda. Proklamasi yang dideklarasikan 62 tahun yang lalu, berawal dari gerakan panjang yang dilakukan pemuda stovia saat itu. Sehingga tidak heran jika Soekarno berkata ” Berikan Aku sepuluh pemuda, Maka akan Ku goncangkan dunia.” Inilah optimisme yang ditunjukkan oleh presiden pertama RI. Harapan bagi rakyat yang tengah melarat hanyalah ada pada pemuda yang bernurani, visioner dan siap berjihad untuk itu. Saatnyalah pemuda, menggantikan kaum-kaum tua (dalam posisi strategis negara) yang telah ternodai oleh mental-mental culas, stagnan dan merasa nyaman dengan kemewahan yang dimilikinya. Saatnyalah Indonesia berubah. Bangkitlah Indonesiaku, kita masih punya harapan.  

Epilog tulisan ini mengkombinasikan syair Rendra dan Kahlil Gibran dengan sedikit modifikasi. Gibran berujar apakah masa muda ini yang bermain dengan hasratku namun mengejek kerinduanku, melupakan tindak-tanduk hari kemarin. Merasa gembira dengan benda tak berharga pada saat itu. Lalu menghina hari esok yang menjelang. Rendra lugas menjawab bahwa kita telah dikuasai mimpi untuk menjadi orang lain, menjadi asing di tanah leluhur sendiri. Padahal, orang-orang miskin juga berasal dari kemah Ibrahim. Kembali Gibran meyakinkan dirinya janganlah berputus asa. Sebab, dibalik kerancuan dunia, dibalik zat dan mega udara, dibalik semua benda, terdapat suatu kekuatan yaitu keadilan dan belas kasihan serta cinta dan keharuan.
(Lomba Hari Kebangkitan Nasional 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts