Senin, 15 Februari 2016

Harkat Buruh dalam Pandangan Islam


Buruh yang tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang, Banten, Senin (27/4). Aksi tersebut merupakan aksi pra May Day menjelang hari buruh pada 1 Mei mendatang. ANT
   Fajar Sidik
PNS Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur

PADA suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab mendapati beberapa orang yang kerjanya hanya berdiam diri di masjid. Ketika Umar bertanya tentang bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup, mereka menjawab, “Kami ini orang yang bertawakal.” 

Umar menolak jawaban itu seraya berkata, “Bukan, kalian ini tidak lain adalah orang yang berpangku tangan dan malas bekerja, kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan rezeki. Padahal, kalian tahu bahwa langit itu tidak pernah menurunkan hujan emas ataupun perak.”

Dari kisah tersebut, nyatalah bahwa setiap manusia dibebankan kewajiban untuk mencari nafkah. Kewajiban ini terukir jelas dalam surat Al Mulk ayat 15. ”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian. Karena itu berjalanlah kalian di segenap penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya.” Tidak ada alasan pembenar apa pun bagi seseorang untuk berpangku tangan maupun mengemis. Sebab, hanya dengan cara bekerja, ia (manusia) akan mendapat berkah dari alam ini (Al-Najm: 39). 

Jalan Rezeki
Ada banyak cara yang dapat dikerjakan seseorang untuk dijadikan sarana mencari nafkah. Allah swt telah mensyariatkan bentuk-bentuk kerja yang dapat dijadikan sebagai sarana bagi seseorang untuk dapat mencari nafkah atau memperoleh harta, di antaranya menghidupkan tanah mati, menggali kandungan bumi, berburu, makelar (samsarah), perseroan harta dengan tenaga (mudarabah), mengairi lahan pertanian (musakat), dan kontrak tenaga kerja (ijarah).

Lebih khusus mengenai perburuhan (ijarah), Islam tidak membagi masyarakat menjadi kelas-kelas sosial, seperti kaum proletar maupun borjuis. Islam menyebut seorang pekerja dengan sebutan ajir. Sementara lembaga, perusahaan atau orang yang mengupahnya dinamakan musta’jir. Atau jika disesuaikan dengan konsep kekinian, ajir adalah buruh sedangkan musta’jir berarti majikan/pemodal. Walaupun secara harfiah memiliki pengertian yang relatif sama. Namun, jika ditelaah secara maknawi, ada kesenjangan antara konsep ketenagakerjaan dalam Islam dengan konsep perburuhan dalam sistem kapitalisme maupun sosialisme. 
Dalam konsep islam, hubungan pekerja dengan majikan adalah setara dan saling membutuhkan. Di satu sisi, pekerja membutuhkan majikan yang mampu membayar tenaganya dengan layak. Sebaliknya pula, majikan memerlukan orang yang mau dibayar untuk mengurusi kepentingannya. 

Hubungan ajir-musta’jir, didasarkan pada ikatan yang saling menguntungkan dan menghargai. Dalam hubungan pekerjaan, memang ada klasifikasi fungsi sebagai pekerja dan pengupah. Namun, pembedaan fungsi ini tidak lantas dijadikan dasar bagi keduanya untuk saling menindas. Justru pembedaan ini menjadi harmoni tersendiri untuk saling memenuhi kepentingannya masing-masing. 

Landasan kokoh terhadap keseimbangan hubungan ajir-musta’jir adlaha kekuatan spiritual goal. Artinya, baik pekerja maupun pemberi upah memiliki satu tujuan hakiki, yaitu meraih rida Allah swt. Berdasar falsafah hidup ini, dipastikan muncul sikap saling menghargai dan mencintai. Tidak ada zalimisasi antara majikan terhadap buruhnya, maupun buruh kepada majikannya. Akhirnya, terciptalah hubungan kerja yang dinamis dan harmonis.

Buruh Manusia Mulia
Islam memandang buruh sebagai sosok manusia yang mulia. Rasulullah berkata bahwa mereka yang bekerja dengan pikiran dan tenaganya untuk mendapat imbalan yang pantas, posisinya lebih mulia daripada pemalas dan peminta-minta (HR. Bukhari). Nabi Muhammad saw menandaskan bahwa Allah akan memberikan rezekinya terhadap mereka yang berusaha dan bekerja untuk kelangsungan hidupnya. Rasulullah sangat mencintai tangan-tangan kasar akibat kerja keras. Bukan kepada orang-orang yang berpasrah pada nasib dan terus berharap Allah menurunkan rezekinya dengan cuma-cuma. 

Alquran sangat mengagungkan dan menjunjung kedudukan buruh. Rasulullah sungguh-sungguh memuliakan buruh dan memberitahu para sahabat bahwa setiap Rasul termasuk dirinya pernah kerja kasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya, Rasul pernah bekerja menggembala kambing milik orang lain, pernah pula berdagang mengikuti Siti Khadijah sebelum menjadi istrinya. Inilah bentuk pelajaran mulia yang diajarkan manusia termulia bahwa kemuliaan tidak dinilai dari jenis pekerjaan yang dilakoni, tetapi semata-mata karena keimanan dan ketakwaan terhadap-Nya. 

Kehormatan buruh di mata Tuhan dan manusia diperoleh melalui kejujuran dan kesungguhan mereka dalam bekerja. Bukan karena posisinya dalam strata perekonomian sebagaimana kapitalisme dan sosialisme ajarkan. 

Penghormatan Islam terhadap buruh juga ditunjukkan dengan ketentuan pemberian upah. Rasulullah mewajibkan setiap majikan untuk membayar upah buruhnya sebelum keringatnya kering (HR Ibnu Majah). Sungguh mulianya Islam mengatur tentang perburuhan. Sampai-sampai, upah pun harus lunas terbayar sebelum keringat mereka kering. Hadis ini mengilhami munculnya jargon upah sehari yang layak bagi kerja sehari, yang dicetuskan Frederich Engels, seorang teoritikus ekonomi-politik akhir abad ke-19.

Lebih lanjut, Rasulullah melarang keras mempekerjakan buruh tanpa menetapkan upahnya terlebih dahulu (HR Baihaqi). Bahkan, Rasulullah mengancam akan memusuhi mereka (majikan/pengusaha) yang mempekerjakan seseorang secara penuh tetapi tidak membayar upahnya dengan layak. Atau jika disesuaikan dengan masa kini, hadis ini mengancam para pengusaha yang menetapkan upah di bawah kebutuhan hidup layak buruhnya. Sebab, menurut ajaran Islam, para pengusaha tidak diperkenankan menginvestasikan uangnya semata-mata untuk meraih keuntungan semata. Mereka juga perlu mendedikasikan usahanya tersebut untuk kebaikan masyarakat sekitar, termasuk orang yang bekerja di dalamnya.

Konsep Islam tentu berbeda sekali dengan kapitalisme dan sosialisme. Jika Islam memandang hubungan buruh-majikan sebagai harmoni yang saling menguntungkan. Berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme yang berpandangan harus ada salah satu pihak yang mendominasi.

Jika kapitalisme mengagungkan pengusaha, sosialisme melangitkan posisi buruh. Kalau kapitalisme menelurkan teori full profit oriented, sosialisme mengajarkan konsep pemerintahan buruh atau diktator proletariat. Pastinya, kedua ideologi tersebut memosisikan buruh-pengusaha sebagai pihak-pihak yang saling berlawanan dan tidak mungkin disatukan.

Jika kapitalisme memuluskan jalan bagi pengusaha untuk memperoleh profit yang sebesar-besarnya dengan cara menekan biaya produksi, termasuk memberi upah yang kecil pada buruh, sosialisme menginginkan seluruh keuntungan usaha dihibahkan untuk kepentingan buruh. Padahal, pencetus kedua paham tersebut sadar bahwa produktivitas kerja berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan. Sebaliknya, investasi urgen untuk membuka kesempatan kerja bagi buruh. 

Oleh karena itu, konsep Islam menjadi solusi permasalahan perburuhan yang dialami dunia kini. Relasi buruh-majikan diliputi jalinan persahabatan dan persaudaraan, hubungan keduanya didasari pada sikap saling membutuhkan dan membantu. 
Selamat hari buruh. Semoga ke depan ada kesadaran kolektif antara buruh-majikan untuk menjalin kerja secara proporsional, professional, dan kesetaraan                                                                                                                                                               

http://lampost.co/berita/harkat-buruh-dalam-pandangan-islam
Terbit : Lampung Post, Kamis, 30 April 2015 Pukul 02.16 WIB 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts