Sabtu, 25 Juni 2016

Menukar Surga Dengan Sandal Jepit




Aah.... Usang, kotor, terhina, butut pula.... Setiap hari terinjak, bersengut kotoran, mencium tanah... Apalah artinya dirimu... Hanya sepasang tapi tak sama, mirip tapi berbeda....

Itulah nasibmu... adanya biasa, hilangnya bencana. Seolah-olah telapak menjadi tuan yang terlarang tersentuh debu. Kau tetap hening, dingin, bisu. Kepasrahan itu membuat keikhlasanmu tak pernah lekang, apalagi sekedar jumawa...

Merekapun lupa... saat-saat terpenting menghadap Tuhan, dirimu paling berjasa. Produk termahal, tak rela mendampingi pemilik logika untuk menggenanginya. Air-air suci mengalir membasuh seluruh tubuhmu. Lalu kau bekotor ria kembali mengantarkan dan menjaga sang pemilik tapak menghadap PenciptaNya dalam keadaan suci. Yaah...  Mungkin itu sebabnya, kau tetap sejuk, tak pernah mengeluh dalam kondisi paling nestapa sekalipun.

Ku hargai perjuanganmu itu. Sandal jepit yang tak pernah ujub tapi selalu buat takjub. Ku sematkan gerakan sosial ku dengan hastag #SedekahSandalJepit sebagai bentuk penghormatan. Kemuliaan yang ingin aku ada pada dirimu dan terus bersamamu. Hingga para pecinta sujud, bermandi mata air salsabila kelak.

Tidak sampai 5 minggu, nyaris 1000 pasang keluarga besarmu, dengan segala ukuran, warna dan motif, tersebar di bebrapa pelosok negeri. Mulai dari mushola kecil di kampus airlangga, melesat ke samarinda, beringsut ke makasar, menyelam hingga bekasi. Selesaikah perjuanganj itu? Belum kawan. Kalian aku transfer ke ibukota Lampung, lalu berjibaku di ujung barat Lampung, lalu keselatannya, ke Timur, masuk Waykanan. Terus bergerak dan bergerak. Semakin massif kalian bergeliat, hingga Pandeglang, Lebak, dan sampai lelahmu di Jawa bagian Tengah, Rembang

Kalian lihatlah! Kalian pandangi wajah-wajah sumringah itu. Mereka pecinta masjid, mereka para penjaga quran. Santri-santri tahfidz yang mendapatkan kemuliaan dari Allah. Yang akan menyematkan mahkota kemuliaan pada keluarganya. Anak-anak yatim yang Rosulullah akan bertetangga disurga dengan mereka. Pemuda-pemuda pecinta ibadah yang akan diberkahi Allah SWT di akhirat kelak. Majelis-majelis ilmu, yang setiap beraktivitas ribuan malaikat turun dari langit mendokaan mereka. Mereka semua menggunakanmu, bangga, riang, takzim memperoleh kado sederhana. Anak-anak, pemuda, orang tua, segala usia, semua bahagia menerima hadiah para dermawan yang berharap berkah karenamu. Mereka coba menawar surga pada Tuhan Nya dengan seharga dirimu. Ya... seharga dirimu.... 


Catat juga oleh kalian. Diri kalian telah menjadi sarana manusia yang memiliki logika, memiliki cipta, rasa dan karsa. Memilih kalian, sandal jepit, sebagai sarana merengkuh pahala Illahi. Ada yang membelimu 3 pasang saja, tapi ada juga yang membelimu 50 pasang. Terpenting keikhlasan. Terpenting tergerusnya kekikiran. #SedekahSandalJepit itu nama gerakanmu. Kawan diujung Sumatera, di Ibukota Jakarta, di ‘planet’ Bekasi, hingga Kota Surabaya, ujung Papua, Tahuna dan Jogjakarta, semua berlomba menguras kantongnya, membelimu untuk satu kemuliaan, #SedekahSandalJepit.

Kini, nyaris 10 jura rupiah terhimpun karenamu. Nyaris 1000 pasang tersebar ke seantero negeri. Nyaris kami di #SedekahSandalJepit lelah dan bingung menghadang serbuan donasi itu. Lalu, masih adakah yang berfikir merendahkanmu, Sandal Jepit?

Kami tak tahu sampai kapan mendompleng fungsimu. Yang pasti, kami juga berharap berkah karenamu. Berharap memperoleh ganjaran kebaikan karena telah menjadi ’broker’ dirimu dan para donatur. Risiko ’broker’ selalu berada pada posisi yang serba sulit. Terhimpit ujub dan sum’ah, tapi disisi lainnya harus menampilkan wajah profesional dan transparan. Yah... menjaga diri dari ketergelinciran bukan hal yang mudah. Tapi lebih penting lagi bagi ’broker’ adalah menjaga amanah dan keikhlasan para donatur dan memberi kebahagiaan bagi penerima manfaat. Jika amanah itu seperti bara-bara api yang menyala, maka tangan-tangan ini harus sekokoh ababiel. Burung pembawa batu api neraka.
Pergerakan ini akan lenyap dalam 3-4 bulan kedepan. Pergerakan ini akan usai dan berhenti. Pergerakan ini akan hilang dan mati. Seiring kita memahami bahwa Sedekah Itu, Mudah-Murah-Ringan-Sederhana. Yang membuat sulit hanyalah kekikiran di hati-hati kita. Selamat mencoba. Bergeraklah mandiri, perhatikan Masjid/ Mushola/ Panti Asuhan/ Panti Sosial disekitarmu, sisihkan beberapa rupiah, belikan sandal jepit dan sebarkan. Bergeraklah, sebelum ajal menghimpitmu dengan sangat menyakitkan. Ingatlah, mereka yang tersiksa di alam kubur selalu berharap kembali ke dunia hanya untuk bersedekah. Salam  #SedekahSandalJepit 


1 komentar:

Recent Posts