Senin, 08 Agustus 2016

Televisi Komunitas : Upaya Meregenerasi Nilai-nilai Adat Lokal Lampung

Selepas shubuh, beberapa orang warga karya punggawa penengahan, tampak bergumul dengan perkakas sederhana. Sambil menyungging keranjang rotan dibahunya, mereka yang berangkat dalam kelompok 2-3 orang, menyebar ke beberapa penjuru hutan. Aktivitas itu nyaris setiap hari mereka lakukan dan akan usai sebelum matahari di atas ubun-ubun. Bagi masyarakat setempat, aktivitas menyadap damar atau yang disebut disebut ”Repong Damar” bukan sekedar aktivitas mencari nafkah. Tapi lebih dari itu, masyarakat Pesisir Barat Lampung menganggapnya sebagai aktivitas ritual nan sakral.

Repong damar telah menjadi culture masyarakat Pesisir Barat Lampung yang terus dilestarikan secara turun temurun. Meskipun nilai-nilai sakral dari aktivitas tersebut terus tergerus perkembangan zaman, tapi hingga saat ini budaya menyadap damar sebagai bagian dari adat istiadat masih lestari. Hal ini tentu menjadi kebanggaan yang perlu dipertahankan oleh Kabupaten Pesisir Barat Lampung sebagai daerah pemekaran yang baru saja berdiri.
Sebagai culture bahkan kepercayaan masyarakat, damar dipersonalisasi sebagai pohon yang mampu memberikan berbagai manfaat untuk manusia. Bahkan beberapa masyarakat adat setempat masih meyakini pohon damar dapat diajak bicara (http://www.teraslampung.com/2014/05/repong-damar-cara-orang-krui.html). Selain itu, kedekatan masyarakat krui dengan damar digambarkan dengan larangan memotong pohon damar tanpa izin adat, bahkan dalam setiap pernikahan masyarakat setempat, kedua mempelai diwajibkan menanam pohon damar. 

Bagi masyarakat krui, mengumpulkan getah damar tidak hanya pekerjaan laki-laki tetapi juga bagian dari kebanggaan kaum perempuan. Apalagi Damar Pinus (Shorea javanica) yang dihasilkan, merupakan damar terbaik atau dikenal dengan damar mata kucing karena kejernihan getahnya. Sehingga tidak heran jika kekayaan alam kabupaten yang dinakhodai Agus Istiqlal bersama Erlina tersebut, menjadi komoditas utama ekspor Indonesia ke negara Jepang.

Secara perlahan namun pasti, perkebunan damar (Repong Damar) mulai tergerus dengan berbagai komoditas lain. Para petani damar yang sebelumnya lincah meliuk-liuk dibatang pohon damar yang berdiameter hingga dua meter dengan sebuah rotan yang melilit dipinggangnya, semakin menua dan ’gagal’ meregenerasi. Hal ini mahfum karena generasi muda tak lagi tertarik dengan aktivitas tradisional tersebut yang dianggap tidak moderen. Persepsi tersebut hadir seiring semakin lunturnya nilai-nilai spiritual Repong Damar sebagai bagian adat dan budaya warga setempat. Para tetua adat, memiliki cara komunikasi dan pendekatan yang berbeda dengan gaya dan pola pikir generasi saat ini. Sehingga, sosialisasi dan penurunan nilai-nilai dan filosofi Repong Damar, tidak dapat diterima dengan baik oleh para pemuda/i. Apabila hal ini dibiarkan, maka bukan hanya adat Repong Damar yang hilang, perkebunan damar juga kelak hanya akan menjadi kenangan yang dikenal anak-anak muda Lampung melalui dokumentasi di museum-museum.

Dalam rangka menjaga dan melestarikan adat Repong Damar tersebut, maka diperlukan cara komunikasi yang dapat diterima generasi saat ini. Permasalahan transfer of knowledge yang akan membentuk identitas/culture, perlu dilakukan secara simultan, terstruktur, massif dan menggunakan tehnik komunikasi yang tepat. Menuju hal tersebut, pilihan mendirikan televisi komunitas petani damar dapat diambil sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal masyarakat. 

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan kehidupan yang kompleks, di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, budaya sebagai produk masyarakat setempat, perlu dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan bangsa. Apalagi, budaya telah terbukti memiliki ’imunitas’ terhadap pengaruh globalisasi yang saat ini terus merasuk hingga pelosok negeri. Dalam upaya bertahan sekaligus mengoptimalkan kemajuan teknologi, maka televisi komunitas petani damar, dapat menjadi alternatif pilihan dalam upaya mempertahankan eksistensi budaya adat masyarakat di Kabupaten Pesisir Barat Lampung. 

Adapun alasan utama perlunya televisi komunitas petani damar, tidak hanya terkait transfer of culture pada generasi muda, tapi juga menjadi sarana bagi masyarakat krui untuk berbagi informasi tentang seluk-beluk perkebunan damar, mulai dari proses pembibitan, pemeliharaan, penyadapan hingga penjualan. Lebih lanjut, televisi komunitas ini akan menjadi pusat informasi harga damar baik tingkat lokal, nasional maupun internasional, dan sarana pertukaran informasi kebutuhan damar antara petani, pemilik kebun, dan pengepul. Bahkan, pemerintah dapat menggunakannya untuk menyosialisasikan kebijakan-kebijakannya agar dipahami secara baik oleh masyarakat.

Televisi komunitas merupakan solusi bagi pengembangan kehidupan lokal yang masyarakatnya masih relatif belum terpapar penuh informasi teknologi, selain tentunya biaya pendirian yang relatif lebih terjangkau. Dengan bekerjasama dengan Televisi Lokal Lampung yang telah eksis seperti Radar TV, dan tentunya para jurnalis televisi, dalam rangka menyusun program yang tepat, berkelanjutan, dan memberi manfaat pada pemirsa yang menjadi targetnya. 

Selain itu, sebagai televisi non-komersil, maka keberlanjutan televisi komunitas perlu didukung dari penerimaan Iklan Layanan Masyarakat dan tentunya donasi komunitas, baik petani, pemilik kebun maupun pengepul damar. Dengan komitmen dan kesadaran pentingnya menjaga eksistensi damar sebagai kekayaan daerah, maka tentu bukan hal yang sulit mendirikan dan mempertahankan televisi komunitas petani damar ini.

Sejatinya, konsep televisi komunitas perlu dikembangkan diseluruh daerah yang kental memegang teguh adat istiadat. Sehingga, proses transfer of knowledge, khususnya terkait culture adat setempat, dapat terus dilakukan dengan sarana dan metode komunikasi yang lebih informatif dan mudah diterima generasi muda. Mungkinkah Lampung menerapkan hal ini?

Terbit : http://radarlampung.co.id/read/2016/08/08/televisi-komunitas-upaya-meregenerasi-nilai-nilai-adat-lokal-lampung/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts