Jumat, 30 September 2016

Ayah, Anak-anakmu Rindu Sentuhanmu


 
Penulis                         :   Misbahul Huda
Tanggal Terbit             :   17 Ramadhan 1437 H (22 Juni 2016)
Penerbit                       :   Bina Qalam Indonesia
Jumlah Halaman          :   308 Halaman
Peresensi                     :   Fajar Sidik, S.H.



Membaca buku ini seperti ditampar berkali-kali. Setiap lembarnya begitu dalam dan menggambarkan realitas yang terjadi pada kehidupan keluarga Indonesia saat ini. Membaca buku ini seperti menguliti seorang suami yang serampangan dalam memainkan perannya sebagai Ayah. Dengan upaya minimalis tersebut, mereka (para Ayah) tetap berharap anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak tangguh, mandiri dan sukses. Mungkinkah?

Buku Bukan Sekedar Ayah Biasa karya Misbahul Huda ini disusun dengan menarik dan bernas. Hal ini mungkin pengaruh profesi penulis sebagai jurnalis senior di Jawa Pos Grup dan kini diamanahi menjadi direktur di beberapa anak perusahaan dibawah konsorsium korporasi milik Dahlan Iskan. Bahasa-bahasa dalam buku ini mengalir deras membasahi dahaga para Ayah dalam mengisi kehausannya akan ilmu dalam mendidik anak-anak peradabannya. Dengan diselingi kajian-kajian spiritual dan emosional dari Ayah-ayah sukses terdahulu, buku ini menurut penulis sangat layak menjadi panduan bagi seluruh Ayah di Indonesia dalam merancang ulang konsep kehidupan keluarganya.

Dalam sekapur sirih, Psikolog anak Elly Risman, mengapresiasi kehadiran buku ini sebagai panduan bagi calon Ayah dan juga para Ayah kandung yang ’tersesat’ dalam memainkan peran pentingnya sebagai pengasuh, pembimbing, guru, kiyai, ahli keuangan, filsuf, imam, dan peran-peran lainnya. Sehingga bunda Elly dalam penutupnya mengatakan, buku ini wajib dibaca oleh setiap laki-laki. ”Mulai dari kita, untuk hari tua yang bahagia dan untuk Indonesia!,”pungkasnya.

Julukan Fatherless Country tentu menohok kaum Ayah yang tidak memainkan perannya dalam keluarga secara benar. Kebanyakan kaum adam, hanya memainkan peran sebagai Ayah Biologis yang hanya mencari nafkah untuk kepentingan keluarga. Padahal menurut Sarah Binti Halil dalam thesis yang ditulisnya dengan judul  “Dialog orang tua dengan anal dalam Al-Quran Al Karim dan Aplikasi Pendidikannya” menyebutkan bahwa dialog antara seorang Ayah dengan anaknya terjadi sebanyak 14 kali dalam Al-Quran. Bandingkan hal tersebut dengan dialog antara Ibu dengan anaknya yang hanya terekam 2 kali dalam Al-Quran. Artinya, proses pendidikan anak dalam keluarga yang didalamnya terdapat internalisasi nilai-nilai dan pengetahuan, porsinya harus banyak dilakukan oleh sang Ayah (Hal. 40-41). Lalu, masihkah amanah Al-quran tersebut dilalaikan oleh para Ayah saat ini?

Ditengah kehidupan yang semakin kompetitif memang terkadang energi seorang Ayah telah terporsir dengan urusan sandang, pangan dan papan. Apalagi bagi keluarga yang secara finansial masih belum stabil kehidupannya. Namun, setiap Ayah perlu memaksakan diri untuk mengambil peran-peran pentingnya dalam menjadi panglima keluarga. Hal ini karena anak bagi orang tua itu bukanlah beban, tapi aset. Misbahul Huda menegaskan hal tersebut dengan pernyataan bahwa ”jika memposisikan anak sebagai aset, pasti terasa ringan dan akan dipentingkan. Sebaliknya, jika anak dianggap sebagai beban, maka pastilah cenderung diabaikan atau bahkan disingkirkan, karena terasa melelahkan” (Hal.26). Lebih lanjut penulis memaparkan bahwa sebagai aset, anak akan mendatangkan pasive pahala sebagaimana sabda Rasulullah bahwa “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Secara umum, peresensi membagi buku ini dalam tiga bagian besar. Pada bagian pertama, penulis memaparkan tentang kesalahan-kesalahan peran yang lazim dilakukan sebagian besar Ayah saat ini. Penulis seperti ingin menggugah kesadaran para Ayah untuk sadar dan bangkit memperbaiki ketersesatan mindset yang dilakukannya selama ini dalam menjalankan kehidupan keluarganya.

Selanjutnya pada bagian kedua, penulis yang sukses membimbing keenam anaknya tersebut mengajak pembaca untuk menyelami peran dan fungsi yang seharusnya dilakukan seorang Ayah terhadap anak-anaknya. Sehingga seorang anak tidak terkena penyakit Avitaminosis Vitamin A yakni kekurangan vitamin A (A = Ayah). Kerusakan-kerusakan moral anak-anak bangsa ini, karena ’tangan dingin’ seorang Ayah benar-benar dingin dan hambar dirasakan anak. Sehingga, proses pembentukan karakter, ketangguhan, kejujuran, imunitas sosial, kemampuan memecahkan masalah yang seharusnya dilatih oleh seorang Ayah, tidak terbentuk secara sempurna karena dilakukan sepenuhnya oleh kaum ibu yang secara psikologis ’baperan’.

Pada bagian ketiga, buku ini mulai mengarahkan pembaca untuk merekonstruksi visi berkeluarganya. Harapannya, dengan visi yang terarah, juga akan terbangun pembagian peran dalam keluarga secara adil dan tepat. Seorang ibu tidak sepenuhnya menangani seluruh problematikan kehidupan rumah tangga, dan seorang Ayah tidak juga hanya fokus mencari penghasilan dengan melalaikan peran sosialnya dalam membina keluarga. Dengan menyusun visi berkeluarga secara baik, maka biduk rumah tangga akan berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan sejatinya. Salah satu bab yang diharapkan mampu membantu menyusun ulang visi berkeluarga yakni bab Berkaca Pada Jejak Bapak. Pada bab tersebut, mantan rektor Universitas Al-Falah Surabaya tersebut merinci beberapa Ayah teladan yakni Ayah Nabi Yusuf yang berhasil menanamkan nilai-nilai keluhuran padanya sehingga mampu menolak ajakan zina dari seorang putri Zulaikha yang sangat cantik, kaya dan memiliki pengaruh. Yusuf muda menolak ajakan tersebut karena kekuatan tauhid yakni ketundukannya pada aturan Allah SWT.

Ayah berikutnya yang tercatat dalam buku ini yakni Ayah Recep Tayyip Erdogan yang dengan visinya kemudian mengarahkan sang anak menjadi pemimpin di negaranya yakni Turki. Padahal talenta besar yang dimiliki Erdogan saat itu justru skill sepakbola yang sangat hebat. Namun karena kehidupan keluarga sang Ayah dibangun dari visi yang jelas, sang Ayah berhasil mengarahkan dan membimbing Erdogan kecil hingga menjadi pemimpin yang disegani di Eropa.

Pada bagian terakhir, pria yang masih berumur 40 tahun ini memberikan ruang pada keenam anaknya untuk mengungkapkan ’kedahsyatan’ Ayah mereka yakni Misbahul Huda, dalam memberikan keteladanan, bimbingan dan mengarahkan mereka anak-anaknya dengan kelembutan, kesantunan, dan keteladanan.

Buku karya pria kelahiran Madiun ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para Ayah di Indonesia. Selain bahasanya yang renyah, juga karena disusun secara terstruktur dan based on real history. Sehingga ’obat’ yang ditawarkan bagi sebagian besar keluarga di Indonesia yang sedang ’sakit’, terasa mujarab meskipun baru sebatas dibaca. Dan mungkin akan ada sensasi lebih mengasyikkan setelah diimplementasikan kemudian.

Meskipun buku ini nikmat untuk disantap hingga habis, masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki secara teknis maupun substantif menurut peresensi. Diantarnya  terkait perlunya menggambarkan pembagian peran yang riil dan adil antara Ayah dan Ibu. Hal ini menurut peresensi perlu disampaikan secara detail untuk membantu pembaca merumuskan visi keluarga secara baik. Wilayah peran Ibu yang nyaris tidak tersentuh dalam mendidik anak dalam buku ini, akan membuat samar rumusan visi keluarga. Dampaknya, rekontruksi visi berkeluarga yang diharapkan terjadi setelah membaca buku ini, akan sulit terwujud.

Adapun hal lain yang secara teknis perlu diperbaiki yakni penggunaan kata yang belum baku. Beberapa yang peresensi temukan diantaranya penulisan kata ”asset” (hal.25) yang tidak tercetak miring atau jika ingin sesuai KBBI maka harusnya ditulis ”aset”. Kemudian kesalahan pengetikan kata ”dengan” yang terketik ”demgan” (hal.243). Meskipun ini hanya masalah teknis, namun dianggap mengurangi kenikmatan membaca, khususnya mereka yang biasa bergelut dengan dunia literasi.

Persensi meyakini buku ini akan menjadi best seller dalam beberapa waktu kedepan. Bukan karena status penulisnya, tapi karena sensasi membaca buku seperti membaca koran yang tentu jarang ditemukan pada buku-buku di Indonesia. Terima kasih atas karya indah ini Mas Huda. Ditunggu karya-karya bernas berikutnya.  


Terbit : 11 September 2016
http://www.dakwatuna.com/2016/09/11/82649/bukan-sekadar-ayah-biasa-pengalaman-ayah-hadir-pengasuhan-anak/#axzz4Lh5EagwM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts